Langsung ke konten utama

Postingan

Motif Kain Kapal Lampung Menyambut di "Gerbang Kota" Amsterdam

Motif tradisional khas Lampung, yakni Kain Kapal, menjadi insipirasi seni instalasi di Centraal Station yang merupakan "gerbang kota" Amsterdam di Belanda. Kemunculan kekayaan tradisi Lampung di Benua Biru ini bermula dari foto yang diunggah oleh Robert Van Den Bos, Direktur Eppax Performing Arts (Belanda) di akun Facebook miliknya pada 27 Agustus 2020 lalu. “The new Amsterdam subway station tiled with a traditional Indonesian Palepai (ship cloth) from the Lampung Province in Sumatera – Indonesia,” tulis Robert dalam akun Facebook. Dari foto Robert, seni instalasi tersebut terlihat ditampilkan di pintu masuk stasiun yang juga terkenal sebagai galeri seni dan "pintu gerbang" Amsterdam.  Motif khas Kain Kapal berupa border (batas) yang terdiri dari tiga lapis dan motif utama berupa jung atau kapal dengan ciri bentuk tegas dan bersiku mendominasi seni instalasi tersebut. Motif utama lain dari Kain Kapal juga diberi porsi besar, yakni unsur bentuk manusia, tumbuhan dan ...

“Load”, Keseimbangan Gender Suku Pepadun Mencari Jawaban di Zurich

Musim panas masih berlangsung di Eropa. Namun cuaca di Rote Fabrik, Wollishofen, Zurich, seperti sudah memasuki musim gugur. Ditambah embusan angin dari Telaga Zurich, siapa pun yang salah kostum, harus menanggung akibatnya. Salah satunya adalah Ayu Permata Sari dan Nia Agustina. Ayu, penari kelahiran Lampung itu, beberapa kali membetulkan kerudungnya. Sementara Nia, dramaturg-nya, juga sibuk menata sweater tenunan Sumba. Kendati demikian, Swiss, negara dengan bentang alam indah namun kerap dikerkahi cuaca kurang bersahabat itu, tidak membuat utusan Indonesia dalam ajang bergengsi di Zurich Theater Spektakel itu, kehilangan keramahannya. Keduanya dengan sabar melayani beberapa komunitas Indonesia yang menemuinya, empat jam sebelum pentas perdananya. Beberapa orang lokal yang menyapanya, juga disambutnya dengan keramahan Indonesia. Load, judul tarian tunggal yang dimainkan Ayu, memang pertama kali akan dipentaskan di Zurich. Tiga hari berturut turut, dari 26 sampai dengan 28 Agustus 202...

KA Limex Sriwijaya dan Kenangan yang Perlahan Menguap Bersamanya...

KA Sriwijaya pernah menjadi primadona bagi pecinta kereta api di Sumatera Selatan (Sumsel) dan Lampung. Namun, kini nasibnya entah kemana. "Iya, kenapa sekarang nggak ada ya? Padahal dulu pas awal-awal nikah sering PP (pergi-pulang) naik Limex," kata Rustam (40) seorang pengacara di Bandar Lampung saat dihubungi, Rabu (31/7/2024) pagi. Rustam lebih akrab dengan nama "Limex" yang merupakan singkatan dari Lintas Malam Ekspres untuk KA Sriwijaya yang beroperasi sejak Juni 1967 itu. Di masa keemasannya, KA Sriwijaya dianggap angkutan bagi orang-orang berduit. Harga tiketnya yang sekitar Rp 150.000 lebih mahal dibanding KA Rajabasa, kereta ekonomi (pagi) untuk perjalanan Tanjung Karang - Kertapati. KA Sriwijaya berangkat dari Stasiun Tanjung Karang sekitar pukul 21.00 WIB. Setelah menempuh perjalanan 8 jam, kereta tiba di Stasiun Kertapati saat matahari mulai muncul. "Tapi nyaman naik Limex, datang, duduk, tidur. Bangun-bangun sudah di Palembang," kata Rustam. ...

Kisah Angkot di Bandar Lampung, Dahulu Primadona Kini Merana

Angkutan Kota (angkot) pernah menjadi primadona transportasi publik di Bandar Lampung. Namun setelah "negara api menyerang" nasibnya kini merana. Di era tahun 2000-an, angkot menjadi transportasi publik pilihan utama, khususnya di kalangan mahasiswa. Pada masa itu, banyak mahasiswa yang merupakan warga Jabodetabek berkuliah di Universitas Lampung (Unila). "Kebanyakan masa itu mahasiswa dari Jawa, termasuk saya dan teman-teman. Sampai di sini ngekost, nggak bawa kendaraan pribadi seperti sekarang," kata Iman Nuralim (41) warga Bandar Lampung saat ditemui, Minggu (22/10/2023). Iman sebenarnya kelahiran Tangerang, dia masuk Unila tahun 2000, namun setelah lulus kuliah di Fakultas Ekonomi dia memilih menetap di Lampung. Sehingga, untuk bepergian Iman dan rekan-rekannya mengandalkan angkot. Dari rumah kost, dia berjalan kaki melewati kampus Unila ke halte. Baru kemudian naik angkot jurusan Terminal Rajabasa - Tanjung Karang untuk ke pusat kota. "Dari (Tanjung) Karan...

"Mendengar" Geliat Musik Tradisional Lampung, Mencari Lestari dari Inovasi

Musik tradisional Lampung berusaha mencari jati dirinya dari inovasi. Perpaduan alat musik tradisional dan modern menjadi pilihan untuk bisa lestari. Irama bernuansa pesisir mengalun mendayu saat grup musik sanggar Sangita menyapa penonton Recaka Musik Lampung di Pasar Seni PKOR Way Halim, Sabtu (13/7/2024) malam. Nada-nada khas etnik Lampung ini lalu menebal dengan iringan flute, bass dan drum minimalis. Membuat rasa musik itu semakin kaya. Gubahan yang menceritakan tentang kondisi masyarakat kekinian di Provinsi Lampung itu seperti mencoba berpadu dengan modernitas agar tak terdengar sepi. Kondisi musik tradisional, termasuk di Lampung, saat ini diakui seperti tamu di negeri sendiri. Hanya duduk terdiam di pojok akan sepi. Tak pernah menjadi peran utama, meski membawa kebanggaan daerah. Hal ini diakui Direktur Perfilman, Musik dan Media Kemendikbud Ristek, Ahmad Mahendra. Menurutnya, Recaka Musik Lampung ini adalah sebuah festival wujud pelestarian dan pengembangan musik tradisi di I...

Halfmath, My Infernality dan Perjalanan Panjang Menuju "Funk" yang Matang

"Mari menolak (menjadi) tua!" Mungkin demikian yang hendak disampaikan oleh 5 sekawan Anggara Mulia, Bondan Prakoso, Arlonsy (Onci) Miraldi, Robby Wibowo, dan Iman Taufik Rachman (Iman J-Rocks) dalam dua rilisan band "reunian" mereka: Halfmath. Halfmath baru merilis dua lagu (saat catatan ini dibuat) di akun YouTube mereka di Juni 2023 ini. Kedua lagu itu berjudul "Wait and See" serta "My Infernality". Saya tidak membahas "Wait and See" pada artikel ini. Bagi saya, "Wait and See" hanya sekadar "say hello" kepada para penggemar Funky Kopral yang selalu bertanya kapan mereka akan reunian. Yup, Halfmath adalah Funky Kopral di awal mereka masuk belantika musik Indonesia sekitar tahun 2000-an dahulu --minus Kristo, sang gitaris pendamping Onci. Masa muda --dan berbahaya-- saya (hahaha...) tidak lepas dari gempuran Funky Kopral. Pada masa itu, lagu-lagu Funky Kopral, Red Hot Chili Pepper dan Pas Band adalah "obat gant...

Mencari Radin Intan, Pergolakan di Tengah Penjajahan dan Pengkhianatan

Kisah perjuangan sosok Radin Intan II dalam menghalau penjajah Belanda penuh dengan pergolakan batin, keringat, darah dan air mata. Pahlawan kebanggaan masyarakat Lampung ini harus berjuang di tengah pengkhianatan saudara dan trik adu domba para penjajah untuk menguasai Lampung. Begitulah bagaimana lakon “Dimana Engkau Radin” membangun alur kisah kepahlawan Radin Intan II, perlahan namun mengaduk emosi dalam pementasan yang digelar oleh Teater 1 Lampung pada Kamis (5/12/2024) tersebut. Epos ini dimulai dengan gambaran kekejaman penjajah yang memperbudak masyarakat Lampung. Kasta dan "previllage" dimanfaatkan Belanda untuk mengeruk kekayaan rempah-rempah di Bumi Lampung. Perbudakan yang kejam dan membuat masyarakat hancur digambarkan dengan jeli oleh Teater 1 melalui erangan, geleparan, karung-karung berisi potongan tubuh manusia, hingga orang hilir mudik dalam posisi membungkuk. Kesengsaraan masyarakat diperparah dengan sikap para bangsawan yang hidup bergelimang harta dan pe...

Ketika Tetabuhan Khas Lampung Membalur Musik Khas Jamaika

Irama tradisional khas Lampung memberikan warna tersendiri di skena musik dub (techno reggae) di level internasional. Dengan ke-khas-an tersebut, duo musisi dub musik asal Lampung, Roadblock Dub Collective kini bernaung di bawah label musik ternama di Eropa, Dubophonic Records (Cyprus). Rilisan terbaru duo Yulius Samiaji (Sam) dan Hidayat Surodijoyo (Iday) ini diberi judul “Suwarnadub”, sebuah album mini berisi enam lagu. Album yang dirilis pada 7 Desember 2021 kemarin ini memuat dua lagu berjudul “Ngelajau Dub” dan “Achtung! Ghetto Lioness” yang dikemas dalam tiga versi, yakni orisinal, remix dan live. Samiaji mengatakan, “Suwarnadub” diambil dari bahasa Sansekerta, Suwarnadwipa yang digunakan untuk menyebut Sumatera pada masa kerajaan dahulu. “Artinya pulau emas, nama pulau Sumatera zaman dahulu,” kata Samiaji dalam keterangan tertulis, Selasa (14/12/2021). Album ini membuat Roadblock Dub Collective bisa dikatakan Go International. Dubophonic Records sendiri telah sudah mendistribusi...

Cerita Liburan Kecil Kaum Urban: "Naik Odong-odong, Goceng Jadilah Buat Anak Senang"

Sejumlah anak-anak bermain odong-odong di pelataran parkir toko pakaian grosir di Jalan Imam Bonjol, Bandar Lampung, Minggu (18/9/2022) malam. Tarif wahana sederhana ini Rp5.000 untuk lima lagu. Suasana toko pakaian grosir di Jalan Imam Bonjol, Bandar Lampung pada Minggu (18/9/2022) malam ramai seperti biasa. Beberapa gadis muda berkerumun memilih kain hijab dan pakaian lalu mencocokkannya, diantara mereka tertawa geli saat salah mengambil pakaian ukuran anak kecil. Di pelataran parkir, riuh lagu anak-anak "Kalau Kau Suka Hati" mengalun dari pengeras suara di sela derit rel wahana kereta tarik otomatis. Odong-odong, akrab orang menyebutnya. "Kalau kau suka hati sorak hore...." "Hore!" seru anak-anak yang sedang menaiki odong-odong spontan berseru mengikuti lagu itu. Beberapa diantaranya bahkan sempat berdiri meski kemudian diperingati orangtuanya. Suasana ceria layaknya sekolah PAUD/TK tergambar di sekitar wahana sederhana kaum urban tersebut. Hanya dengan...

Film “Serdam”, Kematian Nurani dan Budaya yang Seiring Sejalan

Penulis naskah dan produser film Serdam, Iin Zakaria memberikan sambutan dalam pemutaran perdana film tersebut, Selasa (18/1/2022). Film ini mengisahkan tentang alat musik tradisional Lampung yang kini sudah punah.(KOMPAS.com/TRI PURNA JAYA) Film "Serdam (The Death Whistle)" menjadi representasi bagaimana tradisi lokal perlahan "mati" di zaman milenium. Serdam (bahasa Lampung: Sekhdam) adalah alat musik tiup khas Lampung pesisir yang kini bisa dikatakan mulai punah.  Film berdurasi sekitar 1 jam ini diputar perdana pada Selasa (18/1/2022) sore, di Gedung Pentas Tertutup Dewan Kesenian Lampung (DKL) di PKOR Way Halim.  Film berbahasa Lampung ini mengambil latar di wilayah Krui (Pesisir Barat) di mana banyak pengrajin serdam berasal.  Serdam dibuka dengan perbincangan antara seorang pembuat serdam bernama Hamdan (diperankan Iswadi Pratama) dengan Pun Ibrahim (diperankan Deddy), seorang tetua adat setempat.  Pun Ibrahim meyakini, alat musik ini memiliki daya magis yang...

Getir Nyinyir Dari Batas Sembir

Oleh: Tri Purna Jaya Foto: Tri Purna Jaya Berbekal properti yang minimalis serta diadakan di pinggir jalan dengan tema yang menyoroti peliknya kehidupan, teater rakyat mampu menghimpun semua kegetiran menjadi penyuluhan yang cukup efektif. Jepri tertunduk sedih. Gelas air mineral berisi uang hasil mengamennya berpindah tangan dengan paksa. Lelaki bertopi, ber-jeans belel, dan mabuk merampasnya. "Jangan Bapak! Itu hasil mengamen kami," jerit Jepri ketika ia tersimpuh di tanah karena dorongan lelaki mabuk yang ternyata adalah orang tuanya. Si bapak tak ambl pusing. Jerit dan tangisan anaknya tersebut dianggap angin lalu. Dan, kejadian itu kembali terulang, esok, dan esoknya lagi. Sementara sang ibu -yang bekerja sebagai buruh lepas, tak mengetahui bahwa anaknya bekerja sebagai pengamen di terminal dekat tempat tinggal mereka. Dan, ketika sang ibu mengetahuinya, ia hanya bisa meratap dan menyesali tak mampu membuat anaknya itu fokus ke pendidikan. Demikia...

Membangun Surga Kita Sendiri di Rumah

"Kita bisa membangun surga kita sendiri di rumah," kata seorang aktor setelah hampir capai menunggu seumpama Godot. Harapan, cita-cita, mimpi, dan apa pun sebenarnya tak harus jauh-jauh dicari," Barangkali inilah yang hendak disampaikan Komunitas Berkat Yakin (Kober) yang mementaskan Rumah atawa Berkunjung ke Rumah Nenek dalam Pementasan Teater Kala Sumatera di gedung teater tertutup Taman Budaya Lampung (TBL), Jumat (29-5). Pentas ini sekaligus menutup pergelaran yang diadakan Teater Satu bekerja sama dengan Hivos. Dahsyat! Meminjam ucapan seorang aktor dalam lakon, memang tidak berlebihan untuk menyebut pentas Kober ini. Ditulis keroyokan (tim Kober) dan disutradarai Ari Pahala Hutabarat, Kober mampu menyajikan pementasan yang hidup, meskipun terasa lambat. Pada awal pentas penonton sudah dibuat terkesima gerakan aktor/aktris yang berlarian di atas panggung. Pengekspresian perasaan muram dan kebingungan dari masing-masing aktor/aktris patut diacungi jempol. Set pangg...

Hidup ini Banal: Jadi, Nikmati Saja

"Kaulah kini yang harus bercerita. Selesai sudah. Tak ada lagi yang dapat kukenang,". Itulah sepenggal dialog yang menggambarkan pergolakan batin seseorang -perasaan antara ingin menafikan dan mempertahankan sebuah kenangan, pada pementasan Kisah-kisah yang Mengingatkan (90 Menit yang Hilang Darimu) karya Iswadi Pratama, Teater Satu Lampung, di Gedung Teater Tertutup Taman Budaya Lampung, Jumat (4-12). "Bahkan kini aku tak tahu, apakah aku harus menujumu atau menjauhimu,". Teater Satu Lampung mementaskan sebuah pertunjukan yang mereka namakan teater puitis. Kalimat-kalimat puitis hasil torehan Sitok Srengenge adalah kekuatan dalam lakon ini. Inti teks itu berkisar pada pertanyaan-pertanyaan sepasang kekasih untuk menemukan apa yang mempesona di tengah banalitas hidup. Bahasa, khususnya bahasa sastra menjadi faktor yang utama pada nilai-nilai artistik dan estetika dalam lakon tersebut. Sehingga, set panggung yang minimalis pun tidak menjadi suatu kekurangan dalam p...

Tarian dalam Realitas Kehidupan

"Seni merupakan pantulan dari realitas sosial yang dimana seniman hidup dan menjadi bagian dari lapisan sosialnya (G.V. Plekhanov, 1957)". Dua orang pemuda bertubuh pejal berpakaian hitam-hitam itu duduk berhadapan. Mata mereka saling menatap. Kemudian dengan gerakan yang ganjil, mereka saling memiting. Tak lama kemudian, empat orang pemuda bertubuh dan berpakaian yang sama berjalan perlahan dengan kepala tertunduk dari sisi kanan kiri. Dua pemuda tersebut kemudian bergabung dengan mereka. Awalnya hanya terdiam dengan sesekali gerakan-gerakan kecil. Sementara musik yang mengalun makin meningkatkan tempo, seiring gerakan keenam pemuda yang tampak liar namun dengan tempo yang rapi dan kompak. Keenam pemuda tersebut saling berpasangan, namun pada beberapa kesempatan terlihat seperti berganti pasangannya, yang kemudian diakhiri dengan tatapan mencemooh dari pasangan yang ditinggalkan. Mereka melompat, berlari, berdiri di atas kedua tangan dan kepala. Seperti sebuah kerusuhan. Ad...

Aruk: Jujur, apakah salah?

"Salahkah menjadi polos atau jujur?". Hal itu menjadi semacam gugutan yang dilontarkan oleh tokoh Aruk dalam lakon "Aruk Gugat" karya Iswadi Pratama pada pentas teater yang digelar Teater Satu Lampung, Jum'at (12-3). Dalam lakon "Aruk Gugat" tersebut tergambar dengan gamblang, menjadi "orang polos" pada zaman sekarang ini cenderung tidak mendapatkan tempat, terlebih dalam kehidupan publik. Dan, sore itu, Aruk Gugat menampilkan sebuah sajian teater yang segar, bernas sekaligus reflektif. Naskah Aruk Gugat --diangkat dari cerita rakyat Lampung dan baru pertama kali dimainkan secara utuh di Lampung tersebut, menceritakan tentang seorang anak bernama Aruk, dimainkan dengan sangat baik oleh Sugianto. Aruk adalah anak yang agak pandir atau polos tetapi baik hati, dimana ia harus menanggung ambisi ayahnya, untuk meneruskan kejayaan silsilah bangsawan yang mengalir di darahnya. Cerita kemudian berkembang dengan berbagai kesialan yang menimpa Aruk p...

Mayday dan Kesejahteraan Buruh

Mayday adalah Hari Buruh Sedunia. Namun, apakah kesejahteraan buruh sudah terpenuhi? Apakah Mayday hanya sebagai seremoni? Sebuah truk terbuka berukuran sedang berwarna biru dengan tulisan yang mencolok dibagian belakangnya membelah kemacetan di JL. Soekarno--Hatta yang bermuara di lampu merah Kalibalok pagi itu, Selasa (27-4). Matahari baru saja menyembul di ufuk timur. Namun, udara pagi yang seharusnya bersih dan segar tidak terasa di Jalan Lintas Sumatera tersebut. Debu-debu beterbangan disela truk-truk beragam ukuran yang memadati jalan itu. Di bak terbuka truk itu, terlihat 3--5 orang berdiri berpegangan pada sisi bak. Seorang pria separuh baya tampak asyik menghisap rokoknya dalam-dalam sambil memegangi topi pancingnya yang hampir terbang terbawa angin. Truk itu kemudian berhenti di depan Hotel Nusantara. Orang-orang yang berdiri di bak truk itu lalu melompat turun, kemudian bergabung dengan orang-orang yang sedang berdiri di sisi JL. Tirtayasa. Rahmad (42) nama pria separuh baya...